Japan: Simply Irresistible
Jakarta, Wednesday, November 10, 2004
Waktu sayah masih sangat belia, sayah suka nonton film^ animasi dan film robot Jepang. Gak seperti film biasa, film^ ini punya kekuatan untuk bercokol dalam ingatan, padahal terakhir saya tonton itu udah lebih dari 2 dekade. Dahsyat.
Ternyata sayah bukan satu^nya orang yang masih mengingat “kekuatan” film animasi/robot Jepang. Rekan^ sayah yang lainpun ternyata menyimpan kenangan yang sama. Malahan, mereka^ ini masih hapal tokoh dan character di dalam film^ itu, sekaligus bisa menyanyikan soundtracknya dengan bahasa asli (walo sebenernya campur dengan bahasa daerah masing^ mengingat mereka tidak menguasai bahasa Jepang). Dari mulai Voltus V sampai Doraemon. Fenomenal sekali!
Entah dari kapan rakyat Indonesia "jatuh cinta" pada produk Jepang (tentunya selain pada produk elektronik dan otomotifnya). Kita bicara tentang animasi dan musik Jepang yang semakin lama sepertinya makin akrob di kehidupan kita. Banyak remaja sekarang yang begitu menguasai produk Jepang yang satu ini.
Mulai dari manga, anime, musik, sampai pada fashion taste-nya. They turn into "Anything Japanese" Freaks.
Sesuatu yang menyegarkan sebenarnya, setelah dari mulai tahun 40-an kita tercekoki oleh budaya western. Akhirnya di tahun 70an muncullah budaya selain barat, yaitu India dengan idolanya Hema Malini dan Amithaba Chan (maaf kalo salah spelling) lalu kemudian di tahun 80-an, budaya Cina masuk dengan film^ kungfu dan budaya Jepang muncul dengan film^ animasi atau robotnya.
Setelah itu sepertinya orang-orang langsung waspada pada setiap perkembangan yang ditimbulkan oleh negara matahari terbit ini yaitu gak mau ketinggalan berburu semua video animasi dan robot Jepang, selain mengikuti serial Oshin dan lagu sejenis "Kokoro no tomo" dan "Subaru" menjadi salah satu kaset wajib jaman itu.
Kebiasaan itu bertahan malah mungkin bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur dimana "term" kedewasaan ga ada hubungannya dengan "kerajingan nonton atau baca komik anime". Apalagi sekarang serial anime sering ditayangin di televisi dan komiknya gampang didapet. Cerita yang hiperbolik, over dramatic, kocak, gak mungkin, romantis, full action dan imaginatif, justru bikin film anime itu lebih unggul dibanding film^ biasa. Karakter yang unbelievable kadang^ bikin sesuatu itu lebih "tempting", lebih jauh bikin penasaran.
So, jangan heran kalo ternyata ada remaja yang beranggapan bahwa Brad Pitt udah ga keren lagi karena beranggapan bahwa karakter^ seperti Kenshin Himura dalam Samurai X lebih keren. Kalo tiba^ remaja jaman sekarang lebih mengacu pada karakter anime buat cowo pujaannya, yah mungkin karena kadang-kadang karakter anime memang jauh terlihat lebih perfect dibanding pria asli.
Kalo ada anime movie, pasti ada soundtracknya. Entah karena faktor sering nonton, musik^ Jepang itu jadi eksis banget di telinga. Lama^ karena sesuai selera, para anime lovers akhirnya menjelma menjadi J-pop/rock fans. Walopun para pemusik Barat masih dianggap legenda tapi artis^ dari Jepang udah dikenal dan menjadi bahan inspirasi buat para penggemar di Indonesia.
Yang dulu di kamar hanya ada poster Robert Smith – The Cure, sekarang berdampingan dengan poster Glay yang menjadi salah satu icon per-band-nan di Jepang.
Agaknya kiblat trend sekarang memang mulai terpecah. Dulu cuman ngikutin aliran barat, sekarang mulai ngikutin aliran timur yang berbau oriental. Hebat juga.. Bahkan di barat sendiri, hal^ yang berbau "Jepang" sudah digandrungi dan selalu menjadi menu di dalam "must have" list!
Jangan tanya bagaimana prosesnya Jepang bisa mengalihkan kiblat trend. Yang pasti kita dari awal sudah terdoktrin dengan kecanggihan, kejeniusan, kekreatifan mereka lewat gamesnya, film, anime dan akhirnya membawa kita dengan rasa penasaran untuk mencari jauh lebih dalam tentang hal^ yang terlibat di dalamnya, yaitu termasuk musik, makanan, teknologi dan fashion trendnya. Keuletan, kekonsistenan Jepang dalam berkarya membuahkan hasil dengan jangkauan raksasa dan kepada kita, mereka sudah berhasil mengakibatkan kita kecanduan terhadap produk^ mereka.
Hebatnya, gak pake ada batasan umur, Japanese Stuff emang bikin kita semua ADDICTED! :)
Ternyata sayah bukan satu^nya orang yang masih mengingat “kekuatan” film animasi/robot Jepang. Rekan^ sayah yang lainpun ternyata menyimpan kenangan yang sama. Malahan, mereka^ ini masih hapal tokoh dan character di dalam film^ itu, sekaligus bisa menyanyikan soundtracknya dengan bahasa asli (walo sebenernya campur dengan bahasa daerah masing^ mengingat mereka tidak menguasai bahasa Jepang). Dari mulai Voltus V sampai Doraemon. Fenomenal sekali!
Entah dari kapan rakyat Indonesia "jatuh cinta" pada produk Jepang (tentunya selain pada produk elektronik dan otomotifnya). Kita bicara tentang animasi dan musik Jepang yang semakin lama sepertinya makin akrob di kehidupan kita. Banyak remaja sekarang yang begitu menguasai produk Jepang yang satu ini.
Mulai dari manga, anime, musik, sampai pada fashion taste-nya. They turn into "Anything Japanese" Freaks.
Sesuatu yang menyegarkan sebenarnya, setelah dari mulai tahun 40-an kita tercekoki oleh budaya western. Akhirnya di tahun 70an muncullah budaya selain barat, yaitu India dengan idolanya Hema Malini dan Amithaba Chan (maaf kalo salah spelling) lalu kemudian di tahun 80-an, budaya Cina masuk dengan film^ kungfu dan budaya Jepang muncul dengan film^ animasi atau robotnya.
Setelah itu sepertinya orang-orang langsung waspada pada setiap perkembangan yang ditimbulkan oleh negara matahari terbit ini yaitu gak mau ketinggalan berburu semua video animasi dan robot Jepang, selain mengikuti serial Oshin dan lagu sejenis "Kokoro no tomo" dan "Subaru" menjadi salah satu kaset wajib jaman itu.
Kebiasaan itu bertahan malah mungkin bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur dimana "term" kedewasaan ga ada hubungannya dengan "kerajingan nonton atau baca komik anime". Apalagi sekarang serial anime sering ditayangin di televisi dan komiknya gampang didapet. Cerita yang hiperbolik, over dramatic, kocak, gak mungkin, romantis, full action dan imaginatif, justru bikin film anime itu lebih unggul dibanding film^ biasa. Karakter yang unbelievable kadang^ bikin sesuatu itu lebih "tempting", lebih jauh bikin penasaran.
So, jangan heran kalo ternyata ada remaja yang beranggapan bahwa Brad Pitt udah ga keren lagi karena beranggapan bahwa karakter^ seperti Kenshin Himura dalam Samurai X lebih keren. Kalo tiba^ remaja jaman sekarang lebih mengacu pada karakter anime buat cowo pujaannya, yah mungkin karena kadang-kadang karakter anime memang jauh terlihat lebih perfect dibanding pria asli.
Kalo ada anime movie, pasti ada soundtracknya. Entah karena faktor sering nonton, musik^ Jepang itu jadi eksis banget di telinga. Lama^ karena sesuai selera, para anime lovers akhirnya menjelma menjadi J-pop/rock fans. Walopun para pemusik Barat masih dianggap legenda tapi artis^ dari Jepang udah dikenal dan menjadi bahan inspirasi buat para penggemar di Indonesia.
Yang dulu di kamar hanya ada poster Robert Smith – The Cure, sekarang berdampingan dengan poster Glay yang menjadi salah satu icon per-band-nan di Jepang.
Agaknya kiblat trend sekarang memang mulai terpecah. Dulu cuman ngikutin aliran barat, sekarang mulai ngikutin aliran timur yang berbau oriental. Hebat juga.. Bahkan di barat sendiri, hal^ yang berbau "Jepang" sudah digandrungi dan selalu menjadi menu di dalam "must have" list!
Jangan tanya bagaimana prosesnya Jepang bisa mengalihkan kiblat trend. Yang pasti kita dari awal sudah terdoktrin dengan kecanggihan, kejeniusan, kekreatifan mereka lewat gamesnya, film, anime dan akhirnya membawa kita dengan rasa penasaran untuk mencari jauh lebih dalam tentang hal^ yang terlibat di dalamnya, yaitu termasuk musik, makanan, teknologi dan fashion trendnya. Keuletan, kekonsistenan Jepang dalam berkarya membuahkan hasil dengan jangkauan raksasa dan kepada kita, mereka sudah berhasil mengakibatkan kita kecanduan terhadap produk^ mereka.
Hebatnya, gak pake ada batasan umur, Japanese Stuff emang bikin kita semua ADDICTED! :)

